Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Tangerang - Sejumlah anggota masyarakat berbagi cerita tentang pengalaman menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Meski mengakui bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam pelaksanaannya, mereka sepakat bahwa hadirnya BPJS Kesehatan membawa manfaat bagi masyarakat.

Inilah cerita mereka.

Fajrin Rasyid (pelaku 'startup')
Pengalaman saya menggunakan BPJS kesehatan secara umum baik karena meng-cover banyak sekali, termasuk yang paling besar untuk operasi ayah saya. Seharusnya biaya normalnya ratusan juta rupiah, tapi menjadi nol. Keluarga kami cukup mengeluarkan biaya di luar biaya operasi seperti penginapan.
Kekurangan dalam penyelenggaraan BPJS Kesehatan ada, tapi masih dalam tahap wajar seperti proses antri dan menunggu yang cukup lama dibandingkan ketika melakukan pembayaran.

Hari Nugroho (dokter Badan Narkotika Nasional/BNN)
Saya menggunakan BPJS Kesehatan untuk bapak saya. Sakitnya diabetes tapi juga merembet ke yang lainnya, yaitu gangguan ginjal dan gangguan batu saluran empedu. Karena tingkat keparahannya, maka bapak saya dirujuk ke rumah sakit di kota lain.
Pelayanan peserta BPJS Kesehatan di rumah sakit rujukan tersebut mudah. Karena sudah darurat, langsung diterima dan dilakukan tindakan. Setelah itu saya melakukan pengurusan administrasi. Mudah, tidak berbelit-belit. Kalau tanpa di-coverBPJS, waktu itu biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 27 juta.
Kekurangannya yang saya lihat berdasarkan pengalaman saya, ternyata dokter yang terkenal tidak mau dengan pasien BPJS, beda dengan dahulu ketika masih ASKES. Namun tetap kami menggunakan BPJS. Untuk penderita penyakit kronis seperti ayah saya, tentu sangat terbantu.

Rika Rosvianti (akademisi dan ibu rumah tangga)
Sebenarnya pengalaman saya menggunakan BPJS Kesehatan tidak terlalu baik.
Waktu itu tidak lama setelah daftar, dua bulan kemudian sakit mata, lalu datang ke klinik dekat rumah yang dirujuk oleh BPJS. Di klinik ternyata katanya uangnya belum masuk. Pas diperiksa di kantor dananya katanya sudah disetorkan.
Tapi bagaimanapun, lepas dari permasalahan yang ada, saya tetap berpendapat bahwa BPJS Kesehatan ada manfaatnya terutama buat masyarakat kelas bawah.

Tangerang, suatu wilayah yang memiliki luas 129.468 hektar, terdiri atas wilayah kota 18.378 hektar dan kabupaten 111.090 hektar. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,8 juta wilayah kota dan 3,4 juta di kabupaten, kepadatannya di beberapa wilayah sudah menyamai Ibu Kota. Terletak di sebelah barat kota Jakarta dan merupakan kota terbesar di Provinsi Banten serta ketiga terbesar di kawasan perkotaan Jabodetabek setelah Jakarta dan Bekasi.

Saat ini sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat, terlihat di beberapa daerah seperti di Kecamatan Ciputat, Pamulang, Serpong, Pondokaren, Cisauk, Pagedangan, Legok, dan Curug muncul berbagai macam proyek perumahan mulai dari pengembang besar hingga kecil.

Hal tersebut dikarenakan tingginya harga tanah di Jakarta, yang mengharuskan pengembang memperluas wilayah pasarnya ke wilayah yang harga tanahnya masih lebih rendah. Dengan posisi yang berdekatan, maka wilayah Kabupaten Tangerang mulai menjadi target para pengembang. Sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi di Tangerang.
Tangerang juga dibagi menjadi tiga pusat pertumbuhan yaitu: Pusat pertumbuhan Serpong: termasuk didalamnya kecamatan, yaitu Serpong, Ciputat, Pondok Aren, Legok dan Curug menjadi pusat pertumbuhan pemukiman

Pusat pertumbuhan Balaraja dan Tigaraksa: kawasan industri, pemukiman dan pusat pemerintahan. Meliputi delapan kecamatan, yaitu Balaraja, Rajeg, Pasar Kemis, Tigaraksa, Kresek, Cisauk, Cikupa, Kronjo, Jayanti, Jambe dan Panongan.


Pusat pertumbuhan Teluknaga: Meliputi lima kecamatan yaitu Teluknaga, Kosambi, Sepatan, Mauk, Pakuhaji, Kemeri dan Sukadiri. Diarahkan untuk pengembangan sektor pariwisata bahari dan alam, industri maritim, pelabuhan laut, perikanan dan pertambakan.
Dengan adanya potensi-potensi yang dimiliki oleh Kota dan Kabupaten Tangerang, diharapkan semua pihak baik swasta maupun pemerintah dapat bersinergi melihat kesempatan ini, sehingga dapat menciptakan dan mengolah peluang tersebut agar dapat memberikan kontribusi bagi pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di Kota dan Kabupaten Tangerang.

Sejumlah pemilih masih mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) nomor 17 yang bertempat di dalam komplek Sutera Narada, Alam Sutera, Tangsel, Rabu (9/12/2015) siang.

Menjelang jam-jam kritis pencoblosan ditutup, yakni pukul 13.00 WIB, warga sekitar masih mendatangi TPS.

Seperti yang dilakukan Caroline Lim (26) dan ibunya, Yuli,53. Mereka datang dengan mobil ke TPS nomor 17 yang sudah tampak sepi, sekitar pukul 11.45 WIB.

"Saya kebetulan mau pergi, jadi baru ke TPS agak siang," kata Caroline.

Bicara soal pilkada Tangsel secara keseluruhan, menurut dia, informasi tentang pasangan calon masih sangat kurang.

Dia hanya tahu wajah tiga pasangan yang mencalonkan diri dari spanduk besar di dekat bundaran masuk kawasan Alam Sutera.

Meski demikian, Caroline mengaku sudah yakin memilih satu pasangan calon yang dia andalkan dalam pilkada kali ini. Keyakinan itu diperkuat dengan mencari tahu sebelumnya latar belakang ketiga pasangan calon.

"Informasi kalau dari KPUD sangat terbatas, kan. Jadinya saya harus browsing-browsing sendiri baru dapat informasi yang cukup," tutur Caroline.

Pemilih lainnya yang datang sekitar pukul 12.45 WIB, pasangan lansia Susanto ,66, dan Evi ,65, mengaku sengaja datang siang ke TPS agar tidak antre. Dengan dibantu petugas KPPS berjalan masuk ke TPS, Susanto dan Evi juga menegaskan sudah yakin dengan pilihannya tersebut.

"Iya, saya sudah punya pasangan yang saya jagokan. Keputusan saya sudah bulat," ujar Susanto.

Pasangan yang tinggal kurang lebih 10 tahun di Tangsel itu merasakan sudah ada perubahan yang mereka alami, terutama tentang perbaikan jalan dan penerangan di beberapa daerah. Selain itu, pelayanan publik, seperti pengurusan KTP, disebut juga sudah baik.

Empat pemilih itu berharap, siapapun pemimpin Tangerang Selatan nanti, diharapkan bisa membawa Tangsel jauh lebih baik, terutama hal-hal di bidang penataan kota dan birokrasi di berbagai bidang.
Sumber : Tangerangnews.com


Di negara yang menganut sistem demokrasi, kita sebagai warga sipil mempunyai hak yang sama dalam menentukan pemimpin daerah, terlepas dari apapun jabatan atau gelarnya karena di alam demokrasi hak dan daulat rakyat sebagai esensi dalam berpolitik.

Pascareformasi 1998 semua warga sipil menikmati hajat demokrasi secara langsung.

Namun yang menjadi persoalan berikutnya adalah apakah kita (pemilih) sudah melakukan penilaian untuk para calon pemimpin kita ?

Pertanyaan yang sederhana. Namun sangat menggelitik bagi kita. Pertanyaan ini sebagai bentuk auto kritik kepada kita dalam menetukan pemimpin kedepanya.

Karena cukup ironisme memang ketika seorang professor yang menilai calon pemimpin berdasarkan analisa, track rechord, peran, kemampuan,

Serta kredibiltas seorang calon berbanding lurus dan sama dengan seorang yang memilih pemimpin yang mudah dimobilisasi dengan iming-iming materi keduanya sama berjumlah 1 (satu) suara.

Secara prinsip demokrasi memang dibenarkan atas nama kesetaraan namun secara moral tentu ini sangat melukai kita dalam ber-demokrasi.

Tidak berhenti sampai disitu problem kita berdemokrasi, dan berikutnya yang menjadi cacatan kita dalam berdemokrasi ialah persoalan sicalon pemimpin tersebut.

Karena di alam demokrasi baik setan(koruptor) mau pun malaikat (orang bersih) mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pemenang.

Tugas kita selaku pemilih adalah bagaimana si setan tersebut jangan sampai menjadi pemenang dalam setiap kontestasi pemilihan pemimpin baik tingkat presiden, gubernur maupuan walikota atau bupati.

Problem diatas tentu hal yang lumrah atau masalah klasik yang ada dilingkungan sekitar kita dalam berdemokrasi.

Namun, apakah semua ini tidak bisa kita rubah Kekhawatiran saya berlanjut, justru ada sebuah pertanyaan dalam hati kecil saya, “Apakah ini merupakan identitas bangsa Indonesia berdemokrasi? atau apakah kita masih premature untuk berdemokrasi?”.

(Re)Solusi Dapat disimpulkan bahwa penyakit dalam setiap Pemilu atau Pilkada ada dua, pertama ada di kita sebagai pemilih dan kedua pada si calon pemimpin.

Sederhana bagi saya, jawaban yang sangat relevan dan memungkinkan untuk meminimalisir bahkan menghilangkan praktek-praktek haram dalam berdemokrasi ialah kuncinya ada pada pemilih terutama pemilih muda.

Mari kita lihat trailer sejarah bangsa Indonesia dimana disetiap hela nafas pergerakan pasti selalu ada pemuda sebagai penggerak dimana pun dan dalam tragedy apa pun selalu ada peran pemuda.

Tentu kita masih hafal dengan tekad pemuda pada 1928 yang menyatakan bahwa kita adalah satu kesatuan dari tanah air, bangsa, dan bahasa.

Dan tragedi yang cukup mengguncangkan itu dipelopori oleh Yamin dkk (pemuda pada masa itu).

Indonesia yang dulunya hanya sebuah bangsa imajinasi kemudian dapat diwujudkan dengan adanya proklamasi pada 1945 yang dipelopori sang bapak bangsa Soekarna-Hatta

Dan dibelakang mereka tak lepas peran sekelompok pemuda. Belum lagi banyak beberapa peristiwa penting di bangsa ini seperti reformasi 1998 dan lain sebagainya.

Konteks hari ini pemuda tidak perlu lagi mengangkat senjata atau aksi/unjuk rasa mengerakan massa kemudian berbenturan dengan aparat keamanan sehingga mengakibatkan kerugian fisik maupun fisikis.

Jadi lah kita sebagai pemuda yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan bangsa sesuai dengan zamannya. Indonesia pada hari dihadapkan dengan pilkada serentak yang dibutuhkan bangsa kita tentunya mengawal Pilkada dengan cara menjadi pemilih yang cerdas dan mengkampanye kan cara memilih yang cerdas kepada umat.

Hemat saya peran pemuda merupakan kewajiban atau fardu’ain Untuk mencerdas kan bangsa. Karena pemuda merupakan asset bangsa yang berharga.Karena di tangan para pemuda lah bangsa ini diterus kan dan ditentukan.

Untuk menjadi pemilih yang cerdas marikita gunakan cara-cara ilmiah dalam menetukan calon pemimpin masa depan. Dimana cara ilmiah itu kita dapatkan dari pengalaman, track record, kredibilitas calon pemimpin bukan pada banyak

tidak nya materi yang ia beri kepada kita. Betapa tidak terhormatnya kita sebagai pemilih hanya dihargai dengan beberapa materi yang sifatnya sementara dalam waktu yang singkat.

Pemilih cerdas haruslah visioner dalam menentukan pemimpin masa depan. Bagi saya pemimpin yang cerdas bukan banyaknya Quote dari para pahlawan yang ia ucapkan dalam berorasi tetapi pemimpin yang cerdas ialah dia mampu mengakomodir semua kepentingan golongan dan mampu menyelesaikan masalah yang rumit dengan cara yang sederhana.

Oleh : MK. Ulumudin
Katua Kelompok Studi Trisakti – Banten
Diberdayakan oleh Blogger.